BANDUNG- Anggota Komisi X DPR
RI, Hetifah Sjaifudian mengatakan, pemerintah harus kembali meninjau
pelaksanaan pengangkatan honorer secara desentralisasi. Pasalnya hal
tersebut banyak dimanfaatkan oleh politisi yang ingin berkuasa di
daerah.
“Ada beberapa hal yang harus diperhatikan kembali dalam pengangkatan
secara desentralisasi, yakni banyak dimanfaatkan oleh politisi untuk
mendapatkan kemenangan di daerah maka mereka menerima honorer
sebanyak-banyaknya untuk muatan politis. Dan ini harus kembali dikaji
agar penerimaan honorer dikembalikan ke pusat,” ujarnya, kemarin
(26/10).
Namun demikian, nasib honorer harus segera dicarikan jalan keluarnya.
"Sehingga tenaga honorer itu tidak terkatung-katung," ujarnya.
Bahkan untuk mengurus permasalahan honorer itu pemerintah kembali
membentuk suatu badan baru yakni Badan Pengembangan Sumber Daya
Pendidikan di bawah Kementrian Pendidikan Nasional. “Badan itu yang
nantinya akan merekomendasikan dan merumuskan berbagai masalah sumber
daya pendidikan termasuk permasalahan guru honorer,” tuturnya.
Badan baru tersebut pun dikatakan Hetifah menyedot dana hingga Rp3,4
triliun dan mulai dialokasikan pada 2012 mendatang. “Termasuk mengkaji
sertifikasi guru. Karena selama ini kita anggap sertifikasi tidak
langsung berimplikasi terhadap kualitas pendidikan. Jadi soal karier dan
jabatan guru diatur kembali ditata kembali sehingga pemberian
sertifikasi itu akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan di
Indonesia,” katanya.
Hetifah berharap, dengan adanya badan baru dan juga anggarannya yang
sudah diberikan harus mulai menjalankan semua permasalahan guru yang ada
saat ini hingga tuntas.
Mengenai sertifikasi dijelaskannya seluruh guru di Indonesia sudah
tersertifikasi pada Tahun 2015 mendatang. Tahun ini dijelaskannya guru
tersertifikasi sudah lebih dari 50 persen, dan direncanakan selesai pada
tahun 2015.(tie)
Sumber : JPNN











0 komentar:
Poskan Komentar